Mengapa Banyak Yang Membuat Resto Bertema Sport Bar and Grill?


Mengapa Banyak Yang Membuat Resto Bertema Sport Bar and Grill? – Sebelumnya, seperti yang digambarkan oleh seorang penulis, “Irisan kentang, sayap ayam, dan persahabatan menarik banyak pelanggan, terutama pada Senin dan Kamis malam ketika NFL bermain, jumat untuk basket, dan Sabtu dan minggu untuk tayangan sepak bola.” Padahal penyajian hidangan selalu berpusat pada koki. Restoran juga mesti ramah keluarga. Lalu, kini merek-merek resto sport sedang mendefinisikan ulang konsep mereka di banyak negara di dunia.

Selama bertahun-tahun, sport bar di seluruh penjuru dunia, di Eropa, Asia, Amerika tetap sama. Termasuk jaringan resto franschise Buffalo Wild Wings yang salah satu terbesar di Amerika, atau jaringan Miller Ale House, jaringan seperti Glory Days Grill, Arooga’s Grille House & Sports Bar. Kesemuanya lalu memindahkan tema seperti kena sihir Ming atau the Mandarin, meskipun tepatnya sihir Merlin, untuk mereka ulang resto menjadi Sports Bar and Grill.

Apa pasal? Karena resto olah raga versi kuno kehilangan daya magisnya. Terlalu banyak fans yang mulai tertarik ke konsep makan kelas atas atau bergizi dengan konsepan Bar and Grill, di luar sayap ayam dan kentang goreng yang disajikan di piring resto lama. Mesti ada tambahan steak, radish, sushi, serta masakan mahal lain. Karena peringkat NFL dan MLS juga naik, di mana tamu tidak ingin sekedar menonton sepak bola tapi juga makan makanan enak.

Selain itu, banyak pelanggan memiliki TV layar lebar di rumah dengan banyak layar untuk bisa menonton sendiri dengan hidangan rumahan, sehingga kebutuhan untuk melakukan perjalanan ke resto sport mereda, kecuali untuk ajang kumpul kawan. Jika tidak ditopang lewat makanan yang lebih enak atau konsep yang lebih inklusif, orang tidak mau pergi dari kursi rumahnya.

Acara untuk menarik penggemar olahraga sendiri telah meningkat di beberapa sport bar, dan kemungkinan jangka panjang akan bertambah. Tetapi sport bar yang tumbuh dengan wajah baru ini sekali lagi menawarkan lebih dari gorengan sayap ayam, dan memperkuat menu demi menarik audiens yang lebih luas yang akan mengeruk keuntungan di pasar.

Kevin Moll, presiden Restaurant Consulting Services yang berbasis di Colorado, mengatakan pelanggan awalnya bingung tentang identitas bar resto sport biasa. “Apakah mereka bar yang menyajikan makanan, atau apakah mereka berspesialisasi dalam alkohol? Apakah ini tempat untuk minum dan menonton olahraga atau tempat untuk makan? ”

Untuk mengembangkan keunggulan kompetitifnya, setiap sport bar harus melakukan “riset pasar spesifik tentang apa yang dapat ditawarkan yang tidak ditawarkan restoran lain,” Jelas Moll.

Selera terus berubah dan kebanyakan sport bar menjadi “sama-sama tua, sama-sama rongsok. Jika tidak berinovasi, maka “Anda adalah berita lama” . Sport bar perlu memperkenalkan cara baru atau kehilangan pelanggannya.

Banyak sport bar dilihat seperti rumah perkawanan untuk para milenial, atau tempat minum setelah bekerja untuk pria. Dan itu membuat wanita, yang menyusun 51 persen dari populasi, dan keluarga merasa ditinggalkan. “Jika sport bar ingin ramai, maka harus memasarkan dirinya secara eksklusif untuk pelanggan wanita. Maka anda akan sekaligus mendapatkan pria secara otomatis,” Moll menyindir.

Untuk beradaptasi, sport bar akhirnya memodifikasi menu, tidak lagi tawarkan sayap ayam yang ditumis dalam lemon atau minyak zaitun melainkan mulai merembah menu-menu istimewa, bahkan yang berkesan kencan romantis dengan pasangan seraya menonton olahraga, atau bersama keluarga makan steak menonton acara olahraga.